Beranda | Artikel
Tafsir Surah An-Naziat (Bag. 3): Hiburan Kepada Rasulullah dengan Kisah Nabi Musa
11 jam lalu

Pada kesempatan sebelumnya, kita telah membaca bahwa orang-orang musyrik Quraisy mendustakan hari kiamat, bahkan mereka mengolok-ngolok hari tersebut, juga mengolok-ngolok Rasulullah.

Allah menurunkan surah An-Nazi’at ayat 15 sampai 26 sebagai tasliyah atau hiburan bagi Rasulullah, bahwa bukan hanya beliau yang diolok-olok oleh obyek dakwahnya, para Nabi terdahulu juga dihina oleh obyek dakwahnya. Namun pada akhirnya, Allah memberikan kemenangan kepada Nabi-Nya.

Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman,

هَلْ اَتٰىكَ حَدِيْثُ مُوْسٰىۘ

“Sudah sampaikah kepadamu (Nabi Muhammad) kisah Musa?” (QS. An-Nāzi‘āt [79]: 15)

Allah menggunakan kata tanya dengan bentuk tasywiq (membentuk rasa ingin tahu) dan targhib (memotivasi untuk tahu) pada kisah Nabi Musa ‘alaihissalam. Hal ini agar seseorang semakin siap mendengarkan apa yang akan Allah firmankan setelahnya.

Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman,

اِذْ نَادٰىهُ رَبُّهٗ بِالْوَادِ الْمُقَدَّسِ طُوًىۚ

“(Ingatlah) ketika Tuhannya menyeru dia (Musa) di lembah suci, yaitu lembah Tuwa.” (QS. An-Nāzi‘āt [79]: 16)

Allah meceritakan, bahwa Dia memanggil Nabi Musa ‘alaihissalam dari sebuah lembah yang disucikan dan diberkahi bernama Tuwa yang letaknya di gunung Tursina. Allah berfirman kepada Nabi Musa alaihissalam dalam lanjutan ayat.

Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman,

اِذْهَبْ اِلٰى فِرْعَوْنَ اِنَّهٗ طَغٰىۖ

“Pergilah engkau kepada Fir‘aun! Sesungguhnya dia telah melampaui batas.” (QS. An-Nāzi‘āt [79]: 17)

Fir’aun telah berbuat sewenang-wenang dan melampaui batasan yang Allah Ta’ala berikan. Dia menyiksa Bani Israil, menjadikan mereka budak, dan prajuritnya melakukan tindakan tidak senonoh kepada perempuan Bani Israil. Bahkan yang paling parah, Fir’aun mengaku sebagai tuhan yang layak disembah. Suatu kedurhakaan yang sangat mengerikan, menggabungkan durhaka kepada Allah dan zalim kepada manusia.

Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman,

فَقُلْ هَلْ لَّكَ اِلٰٓى اَنْ تَزَكّٰىۙ

“Lalu, katakanlah (kepada Fir‘aun), ‘Adakah keinginanmu untuk menyucikan diri (dari kesesatan)?`” (QS. An-Nāzi‘āt [79]: 18)

Nabi Musa diperintahkan untuk berkata dengan perkataan yang lembut dan indah, “Apakah engkau ingin membersihkan dirimu dari kesalahan, dosa, dan kezaliman?”

Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman,

وَاَهْدِيَكَ اِلٰى رَبِّكَ فَتَخْشٰىۚ

“Dan aku akan menunjukimu ke (jalan) Tuhanmu agar engkau takut (kepada-Nya)?’” (QS. An-Nāzi‘āt [79]: 19)

Nabi Musa juga berkata, “Serta aku akan tunjukkan kepada engkau jalan mengenal Rabb semesta alam, serta aku tunjukkan kepada engkau cara taat mematuhi-Nya, juga memiliki rasa takut kepada-Nya.”

Dalam sebagian tafsir disebutkan, Nabi Musa membimbing Fir’aun agar takut kepada Allah bukan karena sembarang perintah, akan tetapi dikarenakan rasa takut kepada Allah adalah pondasi utama menjalankan perintah-Nya. Siapa saja yang merasa takut kepada Allah, maka akan datang kepadanya segala kebaikan.

Dijelaskan pula bahwa Nabi Musa memulai pembicaraan kepada Fir’aun dengan bentuk pertanyaan, dalam rangka memberikan penawaran baik kepadanya, bukan perintah yang tegas dan langsung. Seakan-akan seperti tuan rumah yang bertanya kepada tamu, “Apakah kalian ingin makan sesuatu?”

Dijelaskan pula bahwa perkataan Nabi Musa kepada Fir’aun adalah perkataan yang lembut lagi santun, padahal yang dihadapi adalah orang zalim bengis yang mengaku sebagai tuhan. Mengapa hal ini dilakukan? Hal ini agar Fir’aun bisa tertarik dan menjadi lunak hatinya dengan kelembutan Nabi Musa. Hal ini juga merupakan sunnatullah bahwa secara umum, orang yang berbuat lembut akan disikapi dengan lembut pula oleh lawan bicaranya.

Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman,

فَاَرٰىهُ الْاٰيَةَ الْكُبْرٰىۖ

“Lalu, dia (Musa) memperlihatkan mukjizat yang besar kepadanya.” (QS. An-Nāzi‘āt [79]: 20)

Ayat ini terkesan “lompat” dari ayat sebelumnya, dikarenakan kalimat ini adalah bentuk ijaz hadzf, yaitu meringkas kalimat dengan menghilangkan sebagian kata yang bisa dipahami dengan qorinah dan akal sehat. Jika kita lengkapi, maka makna ayat ini adalah: “Nabi Musa mendakwahi dan mengajak bicara Fir’aun dengan lembut, akan tetapi Fir’aun menolak dakwah tersebut. Sehingga Nabi Musa memperlihatkan mukjizat atau tanda bahwa dirinya seorang Nabi kepada Fir‘aun.”

Al-Qurthubi rahimahullah membawakan riwayat dari Ibnu Abbas radhiyallahu ‘anhuma yang menjelaskan bahwa mukjizat tersebut adalah tongkat yang dapat berubah menjadi ular.

Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman,

فَكَذَّبَ وَعَصٰىۖ

“Akan tetapi, dia (Fir‘aun) mendustakan (kerasulan) dan mendurhakai (Allah).” (QS. An-Nāzi‘āt [79]: 21)

Fir’aun mendustakan Nabi Musa serta berbuat durhaka kepada Allah setelah diperlihatkan mukjizat yang besar dan nyata.

Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman,

ثُمَّ اَدْبَرَ يَسْعٰىۖ

“Kemudian, dia berpaling seraya berusaha (menantang Musa).” (QS. An-Nāzi‘āt [79]: 22)

Fir’aun memalingkan badan dan menjauh dari ular mukjizat tersebut. Sebagian ahli tafsir menjelaskan dalam tindakan berpaling tersebut, Fir’aun sejatinya merasa takut karena dahsyatnya mukjizat yang dia lihat, sehingga dirinya mempercepat jalannya untuk menutupi rasa takutnya. Mujahid rahimahullah menjelaskan bahwa berpaling di sini maksudnya adalah berpaling dari iman.

Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman,

فَحَشَرَ فَنَادٰىۖ

“Maka, dia mengumpulkan (pembesar-pembesarnya), lalu berseru (memanggil kaumnya).” (QS. An-Nāzi‘āt [79]: 23)

Setelah kejadian tersebut, Fir’aun memanggil tentara dan rakyatnya, serta berseru dengan lantang, yang Allah ceritakan dalam firman-Nya,

فَقَالَ اَنَا۠ رَبُّكُمُ الْاَعْلٰىۖ

“Dia berkata, “Akulah Tuhanmu yang paling tinggi.” (QS. An-Nāzi‘āt [79]: 24)

Perkataan kufur ini bukanlah perkataan kufur pertama yang diucapkan oleh Fir’aun. Akan tetapi, pertama kali Fir’aun mengatakan,

مَا عَلِمْتُ لَكُم مِّنْ إِلَٰهٍ غَيْرِى

“Aku tidak mengetahui ada tuhan lain bagi kalian selain diriku.”

Perkataan ini terdapat dalam surah Al-Qasas ayat 38. Ibnu Abbas radhiyallahu ‘anhuma menjelaskan bahwa jarak antara perkataan dalam surah Al-Qasas dan surah An-Nazi’at adalah 40 tahun. Artinya, Nabi Musa telah mendakwahi Fir’aun dalam waktu yang panjang, dengan penuh daya upaya Nabi Musa mencoba mengingatkan kepada Fir‘aun bahwa sejatinya dia adalah makhluk yang butuh kepada pecipta, yaitu Allah.

Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman,

فَاَخَذَهُ اللّٰهُ نَكَالَ الْاٰخِرَةِ وَالْاُوْلٰىۗ

“Maka, Allah menghukumnya dengan azab di akhirat dan (siksaan) di dunia.” (QS. An-Nāzi‘āt [79]: 25)

Setelah perkataan kufur mengaku sebagai tuhan yang paling tinggi, serta tindakan zalim ingin membunuh Nabi Musa, kemudian mengejar Nabi Musa sampai ke pinggir laut Merah, maka Allah hancurkan Fir’aun dengan menenggelamkannya ke laut Merah. Sebagai bentuk penghinaan karena merasa tinggi, Allah hancurkan dia dengan menenggelamkannya ke dalam dasar lautan.

Sebagian penelitian modern menyebutkan bahwa dalam mumi Fir’aun yang dihadapi Nabi Musa, masih terdapat sisa garam laut yang menjadi penegas bahwa dia memang mati di dalam lautan.

Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman,

اِنَّ فِيْ ذٰلِكَ لَعِبْرَةً لِّمَنْ يَّخْشٰى

“Sesungguhnya, pada yang demikian itu benar-benar terdapat pelajaran bagi orang yang takut (kepada Allah).” (QS. An-Nāzi‘āt [79]: 26)

Kesimpulan, dalam kisah Nabi Musa dan Fir’aun yang telah diceritakan, terdapat pelajaran bahwa hasil akhir bagi penentang Allah dan Rasul-Nya adalah azab yang mengerikan di dunia dan akhirat. Tentunya, pelajaran ini hanya bisa diambil oleh seorang mukmin yang takut kepada Allah.

Allah jelaskan bahwa pelajaran ini akan bermanfaat bagi orang yang takut kepada Allah, kebalikannya adalah pelajaran ini tidak bermanfaat bagi yang tidak takut kepada Allah. Hal ini kita temui dalam realita sebagian orientalis kafir yang mempelajari kisah Nabi Musa dan Fir’aun. Mereka mempelajari kisah ini bahkan menelusuri langsung ke situs arkeologis terkait, namun yang mereka dapatkan bukan pelajaran tentang keimanan, akan tetapi malah semakin menambah kekufuran mereka.

[Bersambung]

KEMBALI KE BAGIAN 2

***

Penulis: Dany Indra Permana

Artikel Muslim.or.id

 

Catatan kaki:

Mayoritas cetakan dan halaman referensi adalah dari app turath: https://app.turath.io/


Artikel asli: https://muslim.or.id/113749-tafsir-surah-an-naziat-bag-3.html